Dalam benakku
Lama tertanam
Sejuta bayangan dirimu
Redup terasa
Cahaya hati
Mengingat apa yang tlah kauberikan
Waktu berjalan
Lambat mengiring
Dalam titian takdir hidupku
Cukup sudah aku tertahan
Dalam persimpangan masa silamku
Coba tuk melawan
Getir yang terus kukecap
Meresap ke dalam relung sukmaku
Coba tuk singkirkan
Aroma nafas tubuhmu
Mengalir mengisi laju darahku
Semua tak sama
Tak pernah sama
Apa yang kusentuh
Apa yang kukecup
Sehangat pelukmu
Selembut belaimu
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu
Apalah arti hidupku ini
Memapahku dalam ketiadaan
Segalanya luruh
Lemah tak bertumpu
Hanya bersandar pada dirimu
Tak bisa, sungguh tak bisa
Mengganti dirimu dengan dirinya
( Sampai kapan kau terus bertahan....sampai kapan kau terus menyerah....buka mata dan hatimu....relakan semua... )
- Padi, Semua Tak Sama -
Untuk MAE, yang selalu ada dalam setiap hembusan nafasku...
Jumat, Agustus 29, 2008
Rabu, Agustus 20, 2008
Tanpa "Rasa" Kau Tak Akan Pernah Bisa Menulis

Tanpa rasa kau tidak akan pernah bisa menulis. Harus ada sesuatu yang muncul dari dalam hatimu, yang menuntun jari jemari tanganmu menulis semua yang ada dalam hatimu.
Tanpa rasa kau tidak akan pernah bisa menulis. Ini yang membuat semua orang bisa menilai, apakah sebuah tulisan itu punya nyawa atau tidak, punya spirit atau tidak. Kita tidak bicara spirit hitam atau spirit putih disini, yang jelas, ada atau tidaknya spirit itu dalam alur sebuah tulisan.
Tanpa rasa maka kau tidak akan pernah bisa menulis. Entah itu rasa sedih, rasa senang, rasa sepi, berharap, kecewa, dan sekian banyak rasa lain yang ada dalam hidup ini. Tuangkan saja, biarkan itu mengalir, apa adanya.
Tanpa rasa kau tidak akan pernah bisa menulis. Dan itu tidak bisa dibohongi. Jadi, ketika tidak ada rasa dalam hatimu, jangan pernah menulis, sampai rasa itu ada lagi...
Tanpa rasa kau tidak akan pernah bisa menulis. Ini yang membuat semua orang bisa menilai, apakah sebuah tulisan itu punya nyawa atau tidak, punya spirit atau tidak. Kita tidak bicara spirit hitam atau spirit putih disini, yang jelas, ada atau tidaknya spirit itu dalam alur sebuah tulisan.
Tanpa rasa maka kau tidak akan pernah bisa menulis. Entah itu rasa sedih, rasa senang, rasa sepi, berharap, kecewa, dan sekian banyak rasa lain yang ada dalam hidup ini. Tuangkan saja, biarkan itu mengalir, apa adanya.
Tanpa rasa kau tidak akan pernah bisa menulis. Dan itu tidak bisa dibohongi. Jadi, ketika tidak ada rasa dalam hatimu, jangan pernah menulis, sampai rasa itu ada lagi...
Kau Cantik Hari Ini
"Kau cantik hari ini..."
Cuma itu yang ingin kukatakan padanya, pada seorang gadis kecil yang memberikan kenyamanan dalam jiwaku.
Lalu malaikat dalam salah satu sekat otakku bertanya, "Legakah kau?"
Sambil mendesah aku menjawab, "Tidak, aku menyesal."
Dia bertanya lagi, "Tapi benarkah begitu?"
Malaikat ini benar2 ingin tahu, batinku.
"Hehe, jujur, tidak, aku bahagia, sangat bahagia, tapi, so what, toh ini cuma serpihan kecil dalam perjalanan hidupku."
"Lalu kenapa itu kaulakukan juga?"
"Kenapa harus kuingkari perasaanku sendiri?", aku menjawab, mencari pembenaranku sendiri.
"Ini bukan masalah pengingkaran, ini masalah kontrol diri, masalah kesetiaan, masalah komitmen dan keteguhan hati.", jawabnya tenang.
"Hei bung, aku cuma menempel batas, bukan melanggarnya, aku tau semua resiko dan konsekwensinya, jadi, get out of my way, ok?", aku mulai sewot.
"Oh good, yang penting sadarilah siapa diri kamu sesungguhnya, dan temukan kembali apa makna tanggung jawab dalam hidup ini."
Aku tak mau terus berdebat, aku tau selingkuh bukan kata yang baik dalam hidup ini, aku tak mau disakiti, jadi otomatis aku tak boleh menyakiti siapapun dalam hidup ini, hal itu kusadari sepenuhnya.
"Hmm, kamu benar, aku harus lebih bisa mengendalikan perasaanku sendiri."
Hening, tidak ada jawaban.
"Sobat?", aku mulai merasa tidak nyaman dengan kesunyian dan kesendirian itu.
"Sobat, dimanakah kau?"
Hening, lalu lirih kudengar dia bergumam,"Kau memang manusia paling tolol yang pernah kukenal."
Aku tersentak, mau berteriak, tapi tak tau pada siapa...
Cuma itu yang ingin kukatakan padanya, pada seorang gadis kecil yang memberikan kenyamanan dalam jiwaku.
Lalu malaikat dalam salah satu sekat otakku bertanya, "Legakah kau?"
Sambil mendesah aku menjawab, "Tidak, aku menyesal."
Dia bertanya lagi, "Tapi benarkah begitu?"
Malaikat ini benar2 ingin tahu, batinku.
"Hehe, jujur, tidak, aku bahagia, sangat bahagia, tapi, so what, toh ini cuma serpihan kecil dalam perjalanan hidupku."
"Lalu kenapa itu kaulakukan juga?"
"Kenapa harus kuingkari perasaanku sendiri?", aku menjawab, mencari pembenaranku sendiri.
"Ini bukan masalah pengingkaran, ini masalah kontrol diri, masalah kesetiaan, masalah komitmen dan keteguhan hati.", jawabnya tenang.
"Hei bung, aku cuma menempel batas, bukan melanggarnya, aku tau semua resiko dan konsekwensinya, jadi, get out of my way, ok?", aku mulai sewot.
"Oh good, yang penting sadarilah siapa diri kamu sesungguhnya, dan temukan kembali apa makna tanggung jawab dalam hidup ini."
Aku tak mau terus berdebat, aku tau selingkuh bukan kata yang baik dalam hidup ini, aku tak mau disakiti, jadi otomatis aku tak boleh menyakiti siapapun dalam hidup ini, hal itu kusadari sepenuhnya.
"Hmm, kamu benar, aku harus lebih bisa mengendalikan perasaanku sendiri."
Hening, tidak ada jawaban.
"Sobat?", aku mulai merasa tidak nyaman dengan kesunyian dan kesendirian itu.
"Sobat, dimanakah kau?"
Hening, lalu lirih kudengar dia bergumam,"Kau memang manusia paling tolol yang pernah kukenal."
Aku tersentak, mau berteriak, tapi tak tau pada siapa...
Selasa, Agustus 19, 2008
Cuma Cinta Yang Mampu Membuatmu Lembut
Mengharap esok hari segera tiba
Mengharap segar menghirup aroma tubuhnya
Mengharap damai menatap senyuman lembutnya
Mengharap kuat menangkap pancaran rasanya
Adakah dia juga merasakan hal yang sama denganku
Adakah dia tahu bahwa aku sayang padanya
Adakah semua itu bisa terjadi
dalam dunia nyata yang ternyata tak mau tahu ini
Aku pastikan akan kukecup salah satu punggung tanganmu
Untuk mengirim semua getaran rasa ini
Mengalir lewat aliran darahmu
Menghantam tenangmu dengan semua kecamuk rasa
Malam semakin larut
Bayangan-bayanganku mulai terantuk sunyi
Ketika aku teringat satu hal menyebalkan...
...Aku haram untukmu...
...Tersadar aku kini...
Mengharap segar menghirup aroma tubuhnya
Mengharap damai menatap senyuman lembutnya
Mengharap kuat menangkap pancaran rasanya
Adakah dia juga merasakan hal yang sama denganku
Adakah dia tahu bahwa aku sayang padanya
Adakah semua itu bisa terjadi
dalam dunia nyata yang ternyata tak mau tahu ini
Aku pastikan akan kukecup salah satu punggung tanganmu
Untuk mengirim semua getaran rasa ini
Mengalir lewat aliran darahmu
Menghantam tenangmu dengan semua kecamuk rasa
Malam semakin larut
Bayangan-bayanganku mulai terantuk sunyi
Ketika aku teringat satu hal menyebalkan...
...Aku haram untukmu...
...Tersadar aku kini...
Jalan Hidup Kesunyian
Tepekur....
Sujud....
Gelap....
Sendiri....
Tunduk kepalaku...
Lelah batinku...
Di sudut dunia yang makin terasing...
Menyatu dengan keramaian
Membuatku semakin ingin muntah
Dengan aroma-aroma yang tak pasti
Di dalam banyak kepentingan hitam tak berujung
Shit, bahkan aku sendiri punya hitam itu....
Tepekur....
Sujud....
Gelap....
Sendiri....
Sujud....
Gelap....
Sendiri....
Tunduk kepalaku...
Lelah batinku...
Di sudut dunia yang makin terasing...
Menyatu dengan keramaian
Membuatku semakin ingin muntah
Dengan aroma-aroma yang tak pasti
Di dalam banyak kepentingan hitam tak berujung
Shit, bahkan aku sendiri punya hitam itu....
Tepekur....
Sujud....
Gelap....
Sendiri....
Inilah Hidup Bung
Disini aku menulis semua hal yang berhubungan dengan perasaan, tanpa perlu peduli apapun. Kekecewaan pada sistem, pada kenyataan, pada apapun yang membuat aku harus meringis kejam, pada diriku sendiri. Ini tempat dimana perasaan berkuasa, karena di alam nyata sana, dia tak akan pernah bisa berbagi dengan kenyataan yang ada. Huh, who care. Kamu tahu bung, inilah hidup ini, telanlah semua nanah getirnya, hisaplah semua deritanya, hisap sampai habis, dan kau tak akan pernah tahu lagi apa itu rasanya sakit, apa itu rasanya disisihkan, dihina, dan kecewa. Kau akan menghilangkan perasaanmu sendiri, karena perasaan, sungguh sangat menjemukan, dan tolol. Kemudian nikmatilah kesunyiannya, kehampaannya....kesunyian tertinggi....perjalanan sendiri...
Inilah hidup bung.
Inilah hidup bung.
Minggu, Agustus 17, 2008
Kenyamanan Dalam Hubungan
Akhir-akhir ini dunia perpolitikan Indonesia sedang hangat-hangatnya oleh kesibukan semua partai politik dalam mempersiapkan strategi memenangkan Pemilu tahun 2009. Dalam suatu kesempatan yang tak diduga, saya terlibat dalam rapat yang tadinya saya pikir merupakan rapat untuk persiapan kantor saya menghadapi proyek selanjutnya, tapi ternyata teman kerja saya itu membawa saya ke sebuah forum yang menggagas tentang bagaimana figur seorang pemimpin bisa menjadi penentu keputusan pilih dalam hajatan besar negara yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali di Indonesia tersebut. Saya mulai gak konsen, karena memang saya tidak terlalu aktif mengikuti perkembangan dunia politik tanah air. Ketika para undangan mulai memaparkan pandangannya satu persatu, saya malah melamun dan mulai membayangkan, bagaimana sih sebenarnya sosok seorang pemimpin yang diharapkan oleh bangsa saya ini. Saya malah membandingkan hubungan antara seorang pemimpin dengan rakyatnya kayaknya kok tak terlalu berbeda jauh seperti layaknya hubungan antara seorang pemuda dengan kekasihnya.
Seorang pemuda, dalam hal ini kita proyeksikan dengan sosok pimpinan, akan berhasil membuat wanitanya jatuh cinta, dalam hal ini rakyatnya, jika dia mampu memberikan kenyamanan di dalam hatinya. Cara dia tersenyum, cara dia bertingkah laku, bertutur kata, kesan simpatik yang ditimbulkannya, pola-pola pikir dia ke depan, cara dia menyikapi masalah yang ada saat itu, merupakan beberapa dari sekian banyak hal yang dituntut oleh seorang wanita terhadap apa yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki pada umumnya.
Berawal dari ketidakpercayaan seorang wanita terhadap laki-laki tak dikenal yang mendekatinya, maka nilai-nilai estetika dan semua hal positif yang konsisten dijalankan merupakan hal yang menentukan dipilih atau tidaknya seorang laki-laki oleh sang wanita yang dipujanya tersebut. Ketika sang wanita mulai merasa nyaman dan yakin, maka semuanya lalu mulai berlanjut sesuai proses alamiah dalam pola pembentukan suatu hubungan. Jadi, sebelum jatuh cinta, maka unsur kenyamanan itu seharusnya mutlak sudah harus ada terlebih dahulu di hati sang wanita, nah, dari situ maka barulah diatur langkah-langkah selanjutnya agar hubungan tersebut dapat terus berkembang untuk kebaikan kedua belah pihak.
Kalau pemimpin? Hehe, sambil menyantap hidangan yang disajikan panitia saya masih juga gak konsen dengan para penceramah yang memberikan teori-teori mutakhirnya tentang sistem propaganda ( hehe, maaf lho Pak, saya nggak "sampai" kalo disuruh ikut mikirin masalah gitu-gitu, maaf, hehe ). Pikiran saya masih menerawang sambil mengambil pencuci mulut. Kalau pemimpin? Wah, faktor kenyamanan masyarakatnya lebih mutlak lagi. Bagaimana dia mau "digugu" ( bahasa Jawa: digagas, diperhatikan, didengarkan suaranya ) kalau dia tidak mampu meyakinkan hati pujaannya ( baca: rakyat ) dengan pesonanya yang menimbulkan rasa nyaman dan tenang. Saya pikir seorang pemuda jarang ada yang langsung memberikan janji-janji terhadap gebetannya ketika baru berada di tahap-tahap awal hubungan. Yang seharusnya perlu dilakukan pertama kali adalah membentuk atmosfir kenyamanan itu sendiri, sehingga dengan rasa nyaman yang tercipta, maka rakyat akan dengan suka rela menjadi militan-militan yang dengan tulus ikhlas memberikan dukungan penuh untuk calon pemimpinnya tersebut. Bangsa ini butuh tindakan riil, butuh motivasi, butuh bimbingan, bukan janji.
Semoga semua proses pendewasaan bangsa kita akan bisa berkembang sampai mencapai format terbaik yang betul - betul sesuai dengan bangsa ini. Amien...
Seorang pemuda, dalam hal ini kita proyeksikan dengan sosok pimpinan, akan berhasil membuat wanitanya jatuh cinta, dalam hal ini rakyatnya, jika dia mampu memberikan kenyamanan di dalam hatinya. Cara dia tersenyum, cara dia bertingkah laku, bertutur kata, kesan simpatik yang ditimbulkannya, pola-pola pikir dia ke depan, cara dia menyikapi masalah yang ada saat itu, merupakan beberapa dari sekian banyak hal yang dituntut oleh seorang wanita terhadap apa yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki pada umumnya.
Berawal dari ketidakpercayaan seorang wanita terhadap laki-laki tak dikenal yang mendekatinya, maka nilai-nilai estetika dan semua hal positif yang konsisten dijalankan merupakan hal yang menentukan dipilih atau tidaknya seorang laki-laki oleh sang wanita yang dipujanya tersebut. Ketika sang wanita mulai merasa nyaman dan yakin, maka semuanya lalu mulai berlanjut sesuai proses alamiah dalam pola pembentukan suatu hubungan. Jadi, sebelum jatuh cinta, maka unsur kenyamanan itu seharusnya mutlak sudah harus ada terlebih dahulu di hati sang wanita, nah, dari situ maka barulah diatur langkah-langkah selanjutnya agar hubungan tersebut dapat terus berkembang untuk kebaikan kedua belah pihak.
Kalau pemimpin? Hehe, sambil menyantap hidangan yang disajikan panitia saya masih juga gak konsen dengan para penceramah yang memberikan teori-teori mutakhirnya tentang sistem propaganda ( hehe, maaf lho Pak, saya nggak "sampai" kalo disuruh ikut mikirin masalah gitu-gitu, maaf, hehe ). Pikiran saya masih menerawang sambil mengambil pencuci mulut. Kalau pemimpin? Wah, faktor kenyamanan masyarakatnya lebih mutlak lagi. Bagaimana dia mau "digugu" ( bahasa Jawa: digagas, diperhatikan, didengarkan suaranya ) kalau dia tidak mampu meyakinkan hati pujaannya ( baca: rakyat ) dengan pesonanya yang menimbulkan rasa nyaman dan tenang. Saya pikir seorang pemuda jarang ada yang langsung memberikan janji-janji terhadap gebetannya ketika baru berada di tahap-tahap awal hubungan. Yang seharusnya perlu dilakukan pertama kali adalah membentuk atmosfir kenyamanan itu sendiri, sehingga dengan rasa nyaman yang tercipta, maka rakyat akan dengan suka rela menjadi militan-militan yang dengan tulus ikhlas memberikan dukungan penuh untuk calon pemimpinnya tersebut. Bangsa ini butuh tindakan riil, butuh motivasi, butuh bimbingan, bukan janji.
Semoga semua proses pendewasaan bangsa kita akan bisa berkembang sampai mencapai format terbaik yang betul - betul sesuai dengan bangsa ini. Amien...
Langganan:
Postingan (Atom)