Sabtu, November 22, 2008

Awanku Tebal

Awanku tebal
Mendungku besar
Mengaca pada jendela
Jiwa rapuh yang berkelana

Mampukah kau menjadi diriku
Yang diperbudak sepi karena tak mau keji
Tak bisa membunuh bayangan yang selalu menghantui
Berharap dia mengerti dan selalu ada disini

Mungkin kaubilang aku ini sapi
Mungkin kaubilang aku ini mimpi
Mungkin kaubilang aku ini tak bisa menyadari
Tapi akan kuberikan padamu satu kata yang paling tepat untuk kausemburkan padaku
Aku ini orang yang sudah mati
Ada di hamparan padang pasir sunyi yang tak bertepi

Lalu aku bertanya pada sapi
Siapakah yang bisa mengerti ?
Dia tak mengerti
Aku menatap ke sebuah batu, berharap dia menyelaku
Tapi diapun juga tak mengerti
Lalu entah kenapa angin dari Surga berhembus di telingaku
Ya, sekarang aku tahu pasti
Yang bisa mengerti
Ternyata cuma diriku sendiri...

Air Mata Adalah Jembatan

Air mata adalah sebuah jembatan
Menuju istanamu yang telah lama menantimu
Menyeret semua perih lukamu
Diringi alam yang bersaksi
Atas kuatnya jiwa yang rapuh
Menahan semua keras peristiwa

Sungai yang diseberangi adalah sebuah cermin tanpa bingkai
Yang menampar jiwamu agar tersadar
Bahwa semua perjalanan akan mampu dilalui
Selama ada doa
Selama ada ikhlas
Selama ada tabah
Selama ada jiwa lurus yang tenang

Semua anugrah dan kasih sayang
Bagi mereka yang pipinya tak pernah kering terlewat air mata
Tapi hati kecilnya selalu berkata
Air mata hanyalah sebuah jembatan... kehidupan...

Rabu, November 19, 2008

Satu Babak Di Salah Satu Penerbanganku


“ Ya Pak, pesawat delay 50 menit.”

Shit. Ucapan pramugari itu membuatku memaki kesal. Terbayang perjalananku yang nyaris liar menuju bandara tadi, tubruk sana tubruk sini, pamit sama bosku di kantor sambil setengah berlari waktu keluar dari ruangannya, kebut-kebutan melanggar beberapa rambu lalu lintas, dan yang terparah, flashdiskku yang berisi data-data kerjaan penting paling update ketinggalan di CPU computer.

“ Oh, ok,” jawabku singkat.

“ Apakah ada bagasi Pak?,” tanya sang pramugari ramah setelah melakukan pengecekan dan pendataan check in passenger dari tiketku.

“ Tidak, terima kasih,” jawabku lagi sambil menghentakkan tas ranselku lebih rapat ke lekukan atas punggungku.

Perjalananku pulang kali ini memang benar-benar meminimalisasi barang bawaan di dalam tasku. Dengan satu buah laptop, berkas-berkas kerja, dan beberapa buku saja, tas ransel 50 kilogramku ini sudah terasa sangat memberatkan beban di pundakku yang semakin hari semakin bungkuk saja rasanya.

Huh, masih sangat lama. Jam tanganku menunjukkan pukul 18.35 WIB. Jiwaku mulai terasa kosong, membayangkan liburan panjang yang akan kujalani di rumah.

“ Liburlah dulu barang satu bulan, “ ucap bosku di satu malam di dalam mobil, beberapa hari lalu saat kami pulang bersama setelah meeting dengan salah satu client.

Satu bulan? Busyet, lama sekali, satu minggu saja sudah cukup bagiku untuk melepaskan penat di otakku ini. Tak terbayang betapa kosongnya hari-hariku tanpa deadline dan tekanan dari berbagai pihak, seperti yang selama ini kujalani di Ibukota. Hehe, mungkin aku termasuk kategori orang aneh yang tidak terlalu menyukai kekosongan, tanpa aktifitas yang memacu adrenalin ataupun imajinasiku untuk bekerja.

Lalu lalang orang di dalam bandara tak kuhiraukan. Mampir di salah satu outlet oleh-oleh di dalam bandara. Membeli satu bungkus rokok, satu kotak minuman ringan, membayar airport tax, asuransi jiwa, lalu aku mulai berjalan menuju transit room B6, sambil sesekali membalas sms yang masuk. Ada yang menanyakan sudah sampai atau belum lah, ada yang minta dikabari jika aku sudah sampai tujuan, ada yang menanyakan angka deal terakhir dengan supplier di salah satu proyek kantor bulan depan, bahkan ada yang menanyakan dimana aku simpan STNK mobil operasional kantor. Hehe, benar-benar hidup yang hiruk pikuk, sebenarnya lebih tepat dibilang kacau dan tumpang tindih tak karuan, hehe.

Akhirnya, bisa juga aku duduk di Smoking Area depan B6, menyelonjorkan kedua kakiku lepas, sambil bertopang di ranselku yang sudah setia menemaniku selama 4 tahun terakhir perjalananku ini. Kupilih sudut yang paling temaram, dekat dengan pot bunga dimana aku bisa membuang limbah debu rokokku disitu, dan mulailah aku memulai ritual merokok sebanyak-banyaknya. Yeah, nikotin ini memang telah merajai rongga-rongga hidupku, menghabiskan raga badanku sedikit demi sedikit. Terbayang celana jeansku bernomor 30 yang kini teronggok di sudut lemari pakaianku tanpa aku sudi memakainya lagi. Badanku makin tipis, makin kering, makin kecil dengan sedikit balutan daging di atas tulangnya. Damn, who care, batinku.

Kubuka N95-ku, lalu iseng kutulis sebuah puisi, penyakit yang sudah sejak dulu tak pernah bisa kutinggalkan. Nampaknya Tuhan memang telah menakdirkan sepuluh jari tanganku ini untuk selalu mengeluarkan sejuta kata dari setiap gerakannya di atas kertas maupun di tuts computer, dan sekarang, di atas tuts handphoneku. Kupandang sekelilingku, orang-orang itu tak ada yang kukenali. Aku sendiri lagi, batinku. Perlahan mulai kutulis, tenang, namun pasti. Kuberi judul sesuai dengan kalimat pertama yang terlintas di dalam benakku.

“ Aku, Membayangkan Diriku Sebagai Sebuah Kesendirian… “

Aku membayangkan diriku sebagai sebuah kesendirian
Cuma bayangan saja yang setia menemani langkahku
Tak berumah dan hanya berjalan menuju ketiadaan tujuan
Menapak dalam kegelapan dan keterbatasan pandangan mata

Aku membayangkan diriku sebagai sebuah kesendirian
Jauh dari gurauan dan omongan basi yang membosankan
Aku ada di menara yang tinggi dimana aku bisa melihat diriku sendiri yang kerdil berjalan sendiri jauh di bawah sana di dalam sunyinya kegelapan malam
Lelah
Dan sakit
Jiwaku datar
Tak bersemangat
Ada di hatiku
Kurasa juga ada di hatimu
Ada di jiwaku
Kurasa juga ada di jiwamu
Kesendirian itu
Bagai bintang yang menempel malam
Di setiap langkahku
Di setiap hembus nafasku…

Lama aku terdiam, tak melakukan apa-apa, membayangkan semua peristiwa yang telah terjadi, disini, di bandara ini. Mulutku menggumam, lirih, “ Datanglah wahai penerbanganku…”

“ Masih di bandara yang sama…
Aku sendiri… lagi… “

( Jakarta, bandara soekarno hatta, menunggu delay 50 menit, 13 november 2008 )

Selasa, November 11, 2008

Ketika Muak Sudah Memuncak...

Dalam kehidupan sehari-hari ternyata tidak semua pemikiran kita bisa dipahami oleh orang lain yang ada di sekitar kita. Saya hidup dengan begitu banyak orang yang sebenarnya merupakan tim kerja saya sendiri, akan tetapi ada saat saya sering merasa sendiri, dan terkucil oleh pemikiran-pemikiran mereka yang “kurang positif” tentang diri saya. Saya berusaha mengakomodir apa yang mereka inginkan, berbuat baik dan baik dan baik, sesuai dengan kemampuan dan kekuatan saya, akan tetapi itu hampir tidak membantu sama sekali, hampir tidak merubah keadaan sama sekali.

Malam ini saya merenung sendiri di depan laptop salah satu bos saya yang dipinjamkan ke saya ( karena beliau baru saja beli laptop baru model terkini ). Hehe, bahkan masalah fasilitas kantor yang diberikan kepada saya ini juga menjadi perbincangan miring mereka terhadap saya (tentunya di belakang saya), dan perlahan, ketika muak saya sudah memuncak, saya mulai mengetik tulisan ini.

Machieveli, dalam bukunya Il Principe, menyatakan bahwasanya kekuasaan memang harus disertai dengan kekerasan, kekejaman, arogansi dan pengekploitasian ketakutan akan ancaman. Semua kebaikan akan berfungsi pada saatnya, akan tetapi stimulasi terbesar untuk hormat dan patuh adalah dengan semua bentuk intimidasi dan penekanan moral yang tak berperasaan.
Pengaruh, apa yang mempengaruhinya ?
- Sikap / attitude yang keji
- Kemampuan pribadi
- Uang untuk ‘membeli’
- Diferensiasi yang tinggi
- Ketergantungan yang tak terbagi
- Strategi
- Dekat dengan kekuasaan tertinggi
- Percaya diri
- Penggunaan tepat emosi
- Ketenangan tak bertepi
Yang terakhir ini dibutuhkan untuk membangun strategi, lalu perlahan-lahan membentuk semua hal lainnya.

Seperti mengemudikan sebuah mobil, tidak pernah ada niat kita untuk bersinggungan dengan kendaraan lain, tapi bisa saja terjadi tiba-tiba kita ditabrak oleh kendaraan lain tanpa permisi. Ketika kita masih mencoba meredam emosi, tau-tau malah kita yang dicaci maki, dibilang tidak becus mengendarai mobil lah, tidak melihat rambu lalu lintas lah, tidak pakai lampu sein ketika belok lah, pokoknyaq semua hal yang ujung-ujungnya cuma bermuara pada kesalahan yang sebenarnya tidak kita buat. Kalau kata salah satu teman bos saya, seperti mencari-cari tulang di dalam sebutir telur, sesuatu yang tidak ada tapi diada-adakan. Ketika ini sudah terjadi, tidak bersalah kita hunus pisau kita, lalu tusuk orang itu, biar dia tidak bisa bersuara lagi, kalau perlu selama-lamanya. Hei bung, kita bukan seonggok sampah yang tidak punya perasaan dan emosi, kita ini manusia yang diciptakan berbentuk dengan daging dan darah, jadi jangan pernah melakukan apapun melebihi batas, terhadap diri kita sendiri maupun terhadap orang lain. Semua punya kelemahan, semua punya keterbatasan, terimalah, dan saling menghargai satu sama lain.

Saya hidup di alam penjajahan, tapi jiwa saya tetap merdeka, sangat merdeka. Tidak ada yang bisa menyentuhnya, tidak ada yang bisa merubahnya…

In this whole life, just fight….for freedom…

Menutup Lembar Kelam Hidup Ini...

Menutup lembar kelam hidup ini
Membisiki hati dengan nilai-nilai terpuji
Mencari arti yang lebih pasti
Setelah lama berjalan seperti orang yang telah mati

Menutup lembar kelam hidup ini
Menapaki lembah dan jurang kehidupan dengan ketenangan suci
Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi
Seperti seorang bayi yang baru saja terlahir ke bumi

Anganku
Melayang tinggi
Asaku
Mulai jinak dan terkendali

Hidup yang cuma sekali ini
Harus punya arti...

( jakarta, 11 november 2008 )

Kamis, November 06, 2008

Kaukah Cahaya Itu ...?


"Kaukah Cahaya Itu ...?"

Dalam gelapku
Dalam sedihku
Dalam lelahku
Kau tiba-tiba hadir
Di setiap detik langkahku

Selalu ada menemaniku
Selalu ada menerangiku

Kaukah cahaya itu ...?

-------

"Sayang Itu Ada Disini... "

Sayang itu tidak dimana-mana
Sayang itu ada disini
Di setiap hela hembusan nafasmu...

(Jakarta, 06 November 2008)

Rabu, Oktober 29, 2008

Sayang....Seribu Kali Sayang...

Sayang
Seribu kali sayang
Seperti jumlah tetes hujan yang turun malam ini
Misterius dalam pertanyaan hati

Senyuman hari ini
Bukan sesuatu untuk disesali
Bukan sesuatu untuk dihindari
Ketika masuk ke lapangan mimpi
Dimana para pemainnya telah siap bertaruh hati

Dimanakah titik semua ini akan berhenti
Saat siksaan racun sepi dimulai lagi
Beranikah kembali ke masa lalu
Yang menyayat nadi angan tiada terperi

Sayang
Seribu kali sayang
Entah ini keindahan
Atau sebuah awal perenungan yang panjang...

Tetes air hujan yang jatuh ke bumi
Membentuk sungai mengalir apa adanya...

( Jakarta, 28 Oktober 2008 )