Kenapa hidup tidak berjalan sesuai dengan yang kuharapkan ?
Kenapa mendung hitam bergantung di awan begitu lama ?
Hingga anginpun enggan berbagi segarnya denganku ?
Apakah aku yang salah ?
Mengamati liang semut dari puncak menara yang tinggi ?
Mencari sarang madu di dasar samudera yang dalam ?
Merindukan sinar mentari di malam hari ?
Apa yang salah dalam diriku ?
Perlahan Sang Pemahaman datang
Menghampiri dengan ketenangan yang bersahaja
Dia tentramkan jiwaku dan dia bisikkan satu kata padaku
“Persepsi… “
Itu adalah semua yang ada dalam pikiranku, semua yang ada dalam perasaanku
Yang ternyata cuma mengacu pada sesuatu yang tak nyata
Pada nafsu yang semu
Pada harapan yang kabur
Pada keinginan yang tak tentu
Betapa aku melihat hal yang positif dari kacamata cakrawala negatifku
Betapa aku melihat hal yang negative dari kacamata cakrawala positifku
Terbolak baliknya aku oleh permainan emosi dunia ini
Sang Pemahaman menyuruhku duduk di sampingnya
Dia ajarkan padaku tentang arti sebuah kebebasan
Kebebasan dari semua kenyataan pahit yang mencekam
Kebebasan yang telah lama kucari selama ini
Hingga membuatku berkunjung ke semua istana kegelapan
Hingga membuatku berkunjung ke semua medan pertempuran
Namun kebebasan itu tak jua tampak
Dia ibarat semua kenyamanan yang berbaur dengan keindahan abadi
Dimana ketenangan jiwa bertahta menjadi rajanya
Kemana harus kucari ?
Sang Pemahaman tersenyum sangat manis, dan berbisik lagi
Di Khaliq-mu Yang Maha Besar
Yang Maha Menguasai Alam Semesta ini
Yang berhak dan mampu menghentikan setiap hembus nafasmu itu kapanpun Dia mau
Disitulah harus kaucari
Semua kunci yang membebaskan semua belenggu rantai dan pintu penjara duniawi ini
Agar kau hidup dalam kebebasanmu sendiri
Sekarang lihat dirimu
Mengapa justru sebaliknya, dimana kau menjadi budak dari semua itu
Engkau dihempaskan, dilemparkan, engkau dipaksa mencandunya
Engkau wajib berupaya, tapi usaha dan doa adalah dua sisi yang berbeda di satu uang logam yang sama
Engkau tidak bergantung pada semua kemewahan dan kilau gemerlap semu itu
Engkau cuma bisa bergantung pada Penciptamu
Setiap gerakanmu yang terkecil sekalipun harus bertumpu pada niatmu untuk mengambil hati-Nya
Dengan tulus, dan suci
Dengan ikhlas, dan sepenuh hati
Dan, tanpa apapun, hatimu akan selalu cerah, senyuman akan selalu tersungging di bibirmu
Itulah kebebasanmu, di dunia ini, dan kelak di akherat nanti
Aku tercenung
Tak menyadari bayangan Sang Pemahaman yang perlahan mulai menghilang
Semua itu menjadi bahan pemikiranku yang tak berujung
Hingga akhir masa nanti
Akhirnya baru kusadari
Ujungnya memang berada di tangan Sang Khaliq
Sang Pencipta Yang Maha Besar
Sang Pemusnah Yang Maha Besar…
Kebebasan yang kucari, tak ada disini…
Kebebasan yang kucari, cuma ada di kerajaan-Nya yang abadi…
( Palembang, 22 november 2008, berkahilah kebebasanku yang cuma ada pada-Mu, dan terimalah permohonan ampunku… )
Selasa, November 25, 2008
DHARMA, SATU KATA YANG KEDALAMANNYA MELEBIHI DALAMNYA SAMUDRA
Di suatu sore yang mendung, langkah kaki saya terbawa ke satu tempat di Jakarta yang biasa disebut Senen. Sebenarnya itu memang tidak saya rencanakan, karena tujuan awal saya adalah ke Kemayoran, menyambangi rumah produksi salah satu kolega bisnis perusahaan tempat saya bekerja, untuk persiapan satu proyek yang sedang kami tangani bersama. Karena jalurnya lewat Senen, maka saya putuskan untuk mampir sebentar mengisi perut yang sudah keroncongan sejak berangkat tadi.
Setelah mengisi perut di Atrium Senen, entah kenapa saya naik melintasi jembatan penyeberangan menuju Pasar Senen di sisi seberang jalan sana. Masuklah saya ke arena penjualan buku-buku bekas, dan saya merasa jadi seorang musafir kehausan di padang pasir yang menemukan sebuah sumber mata air segar. Mata saya berkilat-kilat menyaksikan tumpukan buku-buku usang maupun baru di depan mata saya. Beberapa pedagang sudah mulai menyodorkan buku-buku mereka, tapi saya terus berjalan menyisir setiap judul buku yang ditumpuk rapi di setiap kios, satu demi satu, walaupun tidak ada satu judulpun yang terlintas di benak saya untuk saya cari saat itu. Sekedar melihat-lihat saja, siapa tahu ada yang bagus, batin saya. Sebenarnya saat itu otak saya sedang penuh dengan pertanyaan tentang manajemen system, berkaitan dengan pekerjaan saya, dan ada kecenderungan untuk mencari buku yang berkaitan dengan itu.
Menginjak kios kelima, pandangan mata saya terpaku pada sebuah buku yang memiliki judul dengan background hitam di sisi samping sampulnya. Saya baca judulnya. “Thick Face Black Heart…,” gumam saya setengah tak percaya, rasanya sangat girang seperti anak kecil menemukan mainannya yang telah lama hilang. Betapa tidak, buku ini sudah pernah saya pegang di Gramedia sekitar 2 tahun yang lalu, tapi urung saya bawa ke kasir karena kalah oleh beberapa buku lain yang saya putuskan untuk saya beli waktu itu. Tapi saya sempat bicara pada diri saya sendiri sekeluarnya dari sana, “Aku harus punya buku itu.” Ya, itu buku yang wajib saya miliki, suatu saat nanti. Dan, sekarang, buku itu ada di depan saya. Saya menemukannya lagi, di tempat dan waktu yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Tanpa pikir panjang, saya cek kondisinya, mulus, masih bagus. Tawar menawar harga, cocok, bayar, lalu saya segera meninggalkan tempat itu. Saya memang punya prinsip untuk tidak membeli lebih dari satu buah buku dalam satu waktu yang bersamaan. Biasanya, jika dibeli juga, maka tidak semuanya bisa terbaca dengan tuntas, atau parahnya, semuanya justru tidak terbaca sama sekali karena keterbatasan waktu dan energy saya. Satu buku ini sudah lebih dari cukup untuk saat ini, batin saya. Dengan ketebalan 301 halaman, buku ini akan cukup menyibukkan saya satu minggu ke depan.
Dan waktu terus berlalu, buku itu ternyata baru bisa terbaca 2 bulan kemudian, setelah terbawa kesana kemari dalam setiap kegiatan saya, dan otomatis menghabiskan sebagian space dalam tas saya, bahkan kadang di dashboard mobil saya, menggeletak kepanasan terpanggang sinar matahari dan menggerutu sendirian. Akhirnya, saat sedang menunggu loading barang dalam satu persiapan event exhibition kami, di waktu jeda itu mulailah saya membuka lembar demi lembarnya. Satu bab, dua bab, saya lalu menutupnya lagi, memberinya pembatas dan memasukkannya dalam tas karena pekerjaan telah memanggil saya saat itu. Dan, dua minggu setelah itu, tepatnya malam ini, saya berhasil merampungkan bab tiga dan bab empat. Nah, materi di bab-bab inilah yang akan saya bahas, karena menurut saya ini sesuatu yang sangat dashyat dan benar-benar menginspirasi saya. Judul bab itu, “Dharma: Pohon Pemenuhan Permohonan.”
DHARMA: POHON PEMENUHAN PERMOHONAN.
DHARMA: POHON PEMENUHAN PERMOHONAN.
“Dharma adalah dasar penunjang kehidupan.” ( Mahabharata )
Kata Dharma berasal dari Bahasa Sansekerta, bahasa tertua di dunia, yang berasal dari India kuno. Dharma berasal dari kata dhar, yang artinya mendukung, menegakkan, memelihara. Jadi Dharma sering didefinisikan sebagai hal yang menunjang kehidupan. Kekuatan yang menopang dunia, koherensi antara alam semesta.
Dharma adalah pemahaman tindakan yang sesuai dengan keadaan yang sedang berlangsung. Ini berarti “bertindak sesuai dengan kewajiban seseorang”. Setiap orang memiliki Dharma yang berbeda-beda dalam kehidupan, sesuai dengan peran yang diembannya. Dharma seorang prajurit adalah melawan musuh bangsanya, Dharma seorang dokter adalah menyelamatkan nyawa pasiennya, terlepas dari semua kondisi dan hambatan yang dimilikinya saat itu, misalnya istri prajurit itu sedang hamil tua ketika perang meletus, atau dokter itu harus menyelamatkan nyawa musuhnya sendiri. Tidak ada pilihan, Dharma harus tetap dijalankan. Bahkan, seorang pencuri pun adalah hamba Tuhan yang sedang menjalankan Dharmanya, menjalankan perannya dalam kehidupan ini. Dengan Dharma, kita bisa memahami posisi kita saat itu dan menentukan sikap ataupun tindakan untuk berlaku sesuai dengan Dharma yang kita miliki. Jika Dharma dipatuhi, maka kehidupan akan berjalan dengan selaras dan seimbang. Kita akan bisa menerima kehidupan sebagaimana adanya dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan itu, sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan kita. Dharma menuntut keikhlasan, keberanian dan kejujuran. Semangat mencari kebenaran menjadi rohnya, dan pertanyaan yang selalu ada dalam setiap situasi adalah, “Apa Dharmaku saat ini?”
Kata Dharma berasal dari Bahasa Sansekerta, bahasa tertua di dunia, yang berasal dari India kuno. Dharma berasal dari kata dhar, yang artinya mendukung, menegakkan, memelihara. Jadi Dharma sering didefinisikan sebagai hal yang menunjang kehidupan. Kekuatan yang menopang dunia, koherensi antara alam semesta.
Dharma adalah pemahaman tindakan yang sesuai dengan keadaan yang sedang berlangsung. Ini berarti “bertindak sesuai dengan kewajiban seseorang”. Setiap orang memiliki Dharma yang berbeda-beda dalam kehidupan, sesuai dengan peran yang diembannya. Dharma seorang prajurit adalah melawan musuh bangsanya, Dharma seorang dokter adalah menyelamatkan nyawa pasiennya, terlepas dari semua kondisi dan hambatan yang dimilikinya saat itu, misalnya istri prajurit itu sedang hamil tua ketika perang meletus, atau dokter itu harus menyelamatkan nyawa musuhnya sendiri. Tidak ada pilihan, Dharma harus tetap dijalankan. Bahkan, seorang pencuri pun adalah hamba Tuhan yang sedang menjalankan Dharmanya, menjalankan perannya dalam kehidupan ini. Dengan Dharma, kita bisa memahami posisi kita saat itu dan menentukan sikap ataupun tindakan untuk berlaku sesuai dengan Dharma yang kita miliki. Jika Dharma dipatuhi, maka kehidupan akan berjalan dengan selaras dan seimbang. Kita akan bisa menerima kehidupan sebagaimana adanya dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan itu, sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan kita. Dharma menuntut keikhlasan, keberanian dan kejujuran. Semangat mencari kebenaran menjadi rohnya, dan pertanyaan yang selalu ada dalam setiap situasi adalah, “Apa Dharmaku saat ini?”
Seorang Arjuna dalam perang Bharatayuda pun mengalami perjalanan Dharmanya. Sebagai seorang ksatria maka dia harus membunuh saudara-saudara sepupunya sendiri dari klan Kurawa. Pertentangan batin hebat melanda dirinya, dimana ajaran-ajaran kasih sayang yang didapatnya selama ini seolah harus dicampakkannya demi sebuah perebuatan tahta dan kerajaan. Seorang titisan Dewa yang saat itu menjadi kusir untuk kereta perang Arjuna, sang Batara Khrisna, memberi nasehat kepadanya agar menghilangkan rasa kasih sayang yang semu. Arjuna harus maju berperang tanpa amarah dan nafsu angkara murka, bukan untuk sebuah tahta ataupun kerajaan, namun untuk memenuhi kewajiban bagi diri sendiri maupun bagi negaranya. Arjuna harus menjalankan Dharmanya, aturan alami kehidupannya. Semua berjalan mengikuti hukum alamnya, dan di akhir perang itu, Pandawa tetap utuh 5 orang, sedangkan Kurawa yang berjumlah 100 orang seluruhnya binasa.
Kita semua adalah ksatria, dan kehidupan ini adalah pertempuran yang abadi. Kita tidak perlu menyukai pertempuran itu, tapi yang terpenting adalah, kesanggupan kita untuk bertempur. Itu yang terpenting, dan pilihannya ada pada diri kita sendiri. Untuk bisa bertahan dalam kehidupan, kita harus menghadapi sifat negative batiniah dan realita dunia nyata. Pada kenyataannya, tidak ada yang gampang ataupun sulit. Kompetisi untuk bertahan hidup sudah menjadi kondisi kehidupan. Sudah menjadi Dharma kita untuk menjalankan pertempuran hidup secara benar dan ksatria.
Memang tidak mudah menemukan tindakan yang benar pada setiap saat kehidupan kita yang sesuai dengan Dharma kita. Bahkan kadang kita tak tahu pasti apa Dharma kita saat itu. Kita akan melewati tahap-tahap trial and error, gagal dan coba lagi. Tapi apapun jenis pekerjaan anda, anda akan berhasil jika anda mampu menunjukkan Dharma anda bagi pekerjaan itu. Sebuah kursi memiliki Dharma untuk rela diduduki, dengan begitu maka ia jadi berguna untuk kehidupan ini. Sebatang pensil atau seekor kambing, hanya akan berguna jika mereka menjalankan fungsi sesuai Dharmanya dengan benar. Dan untuk itu, Dharma membutuhkan apa yang dinamakan daya tahan. Dharma juga membutuhkan upaya atau usaha, karena langit tak akan terkuak dengan sendirinya jika anda tidak membukanya. Takdir membutuhkan upaya. Takdir dan upaya adalah dua sisi berbeda di satu uang logam yang sama. Surga akan menolong orang-orang yang menolong diri mereka sendiri.
“Segenap usaha itu suci bagi-Nya,
Di antara orang yang paling negative, tolol dan bodoh, serta yang paling positif, percaya diri dan yakin, hanya terbentang sedikit jarak hingga Sang Pencipta kita hanya menanggapinya dengan senyuman.”
( Chin Ning Chu – diilhami oleh Elizabeth Waterhouse )
Pengarang buku Thick Face Black Heart adalah Chin Ning Chu, seorang wanita keturunan China yang hidup di Amerika, merintis karirnya dari nol disana, hingga saat ini memiliki profesi sebagai Presiden Direktur Asian Marketing Consultants, Inc., juga Direktur Eksekutif RIM Master Group. Buku sebelumnya yang sudah pernah dibuatnya dan menjadi best seller adalah The Chinese Mind Game. Seorang wanita hebat yang telah berhasil mengendalikan semua rasa takutnya dan merubahnya menjadi sebuah alat untuk meraih kesuksesannya.
Mungkin perjalanan saya ke Senen adalah sebuah takdir saya dalam menemukan buku ini, dan posisi saya saat ini juga adalah Dharma yang memang harus saya jalani dengan baik, dengan semangat dan keikhlasan tinggi. Saya menulis ini juga Dharma, dan saya juga masih tak habis pikir, apakah juga memang sudah menjadi Dharma anda ketika anda kok jadi ikut baca tulisan ini sekarang, dalam salah satu waktu di kehidupan anda yang panjang ini, hehe. Semoga bermanfaat, itulah sekilas pandangan tentang Dharma, hukum alam yang menuntun kita pada kebenaran dari tindakan kita.
Setialah pada kehidupan anda, pada hasrat anda sendiri.
“Segenap usaha itu suci bagi-Nya,
Di antara orang yang paling negative, tolol dan bodoh, serta yang paling positif, percaya diri dan yakin, hanya terbentang sedikit jarak hingga Sang Pencipta kita hanya menanggapinya dengan senyuman.”
( Chin Ning Chu – diilhami oleh Elizabeth Waterhouse )
Pengarang buku Thick Face Black Heart adalah Chin Ning Chu, seorang wanita keturunan China yang hidup di Amerika, merintis karirnya dari nol disana, hingga saat ini memiliki profesi sebagai Presiden Direktur Asian Marketing Consultants, Inc., juga Direktur Eksekutif RIM Master Group. Buku sebelumnya yang sudah pernah dibuatnya dan menjadi best seller adalah The Chinese Mind Game. Seorang wanita hebat yang telah berhasil mengendalikan semua rasa takutnya dan merubahnya menjadi sebuah alat untuk meraih kesuksesannya.
Mungkin perjalanan saya ke Senen adalah sebuah takdir saya dalam menemukan buku ini, dan posisi saya saat ini juga adalah Dharma yang memang harus saya jalani dengan baik, dengan semangat dan keikhlasan tinggi. Saya menulis ini juga Dharma, dan saya juga masih tak habis pikir, apakah juga memang sudah menjadi Dharma anda ketika anda kok jadi ikut baca tulisan ini sekarang, dalam salah satu waktu di kehidupan anda yang panjang ini, hehe. Semoga bermanfaat, itulah sekilas pandangan tentang Dharma, hukum alam yang menuntun kita pada kebenaran dari tindakan kita.
Setialah pada kehidupan anda, pada hasrat anda sendiri.
Cia yo, tetap semangat.
Sabtu, November 22, 2008
Wahai Jiwa Yang Gelisah
Wahai jiwaku yang gelisah
Sampai kapan kau akan membuatku terus begini
Bergumul dengan angan - angan yang tak pasti
Berkutat dalam lingkaran pusaran waktu
Berkutat dalam celotehmu
Yang sudah kubilang aku tak pernah mengerti
Wahai jiwaku yang tak pernah lelah berkelana
Sudikah kauijinkan aku tuk beristirahat sejenak
Meletakkan semua luka yang mendera
Dalam pencarian kasih sayang tak bertepi ini
Kurang ajar, shit, kau malah tertawa
Demi rinduku pada sebuah bayangan
Dimana anganku hangat bersandar
Demi resahku pada sebuah harapan
Tempat aku singgah ketika lelah dan kalah
Demi sebuah mimpi yang terus bergentayangan
Yang memaksaku tidur tanpa pejamkan mata
Tak kuasa untuk berlari
Dari semua yang membuatku melolong sepi
Dari semua yang membuatku bersimpuh nyeri
Sendiri...
Sampai kapan kau akan membuatku terus begini
Bergumul dengan angan - angan yang tak pasti
Berkutat dalam lingkaran pusaran waktu
Berkutat dalam celotehmu
Yang sudah kubilang aku tak pernah mengerti
Wahai jiwaku yang tak pernah lelah berkelana
Sudikah kauijinkan aku tuk beristirahat sejenak
Meletakkan semua luka yang mendera
Dalam pencarian kasih sayang tak bertepi ini
Kurang ajar, shit, kau malah tertawa
Demi rinduku pada sebuah bayangan
Dimana anganku hangat bersandar
Demi resahku pada sebuah harapan
Tempat aku singgah ketika lelah dan kalah
Demi sebuah mimpi yang terus bergentayangan
Yang memaksaku tidur tanpa pejamkan mata
Tak kuasa untuk berlari
Dari semua yang membuatku melolong sepi
Dari semua yang membuatku bersimpuh nyeri
Sendiri...
Puisi Demi Puisi Kosong
Kenapa tangan ini tak mau berhenti merangkai puisi
Membuang waktuku
Membuai benakku ke alam tak tentu
Semua hal yang tak pernah ada maknanya
Kenapa jendela jiwaku tak kunjung terbuka
Membiarkan cahaya alam masuk menghangati
Menyinari sudut - sudut gelap yang sepi
Yang dingin dan tak pernah mau mengerti
Seonggok puisi - puisi usang sudah lapuk dimakan usia
Di rongga - rongga batinku yang menjerit minta diisi
Pengertian dan kasih sayang
Seperti anak kecil yang bingung mencari jalan pulang
Aku termangu
Untuk apa aku merajut puisi lagi ...?
Terbangun dari lelahku
Angin utara menerpaku
Mengeringkan semua cairan di syarafku
Menyedot lagi semua kesadaranku
Dan, seperti air sungai yang mengalir
Puisi kosong itu muncul lagi...
Mungkin memang sudah takdirku
Untuk terus menulis puisi
Sampai akhir waktuku nanti...
( Palembang, 22 november 2008, teriring salam untuk Gola Gong, untuk Balada Si Roy-nya, yang menginspirasi masa mudaku, untuk membuatku jadi tolol seperti ini... )
Membuang waktuku
Membuai benakku ke alam tak tentu
Semua hal yang tak pernah ada maknanya
Kenapa jendela jiwaku tak kunjung terbuka
Membiarkan cahaya alam masuk menghangati
Menyinari sudut - sudut gelap yang sepi
Yang dingin dan tak pernah mau mengerti
Seonggok puisi - puisi usang sudah lapuk dimakan usia
Di rongga - rongga batinku yang menjerit minta diisi
Pengertian dan kasih sayang
Seperti anak kecil yang bingung mencari jalan pulang
Aku termangu
Untuk apa aku merajut puisi lagi ...?
Terbangun dari lelahku
Angin utara menerpaku
Mengeringkan semua cairan di syarafku
Menyedot lagi semua kesadaranku
Dan, seperti air sungai yang mengalir
Puisi kosong itu muncul lagi...
Mungkin memang sudah takdirku
Untuk terus menulis puisi
Sampai akhir waktuku nanti...
( Palembang, 22 november 2008, teriring salam untuk Gola Gong, untuk Balada Si Roy-nya, yang menginspirasi masa mudaku, untuk membuatku jadi tolol seperti ini... )
Ke Rumah Tuhan
Di tengah gersang jiwaku, termangu aku mencari kata "pulang"
Rumah ?
Pulang ?
Belum pernah kurasakan hangatnya pulang
Ya, pulang
Ke rumah Tuhan
Kesanalah aku akan pulang...
Rumah ?
Pulang ?
Belum pernah kurasakan hangatnya pulang
Ya, pulang
Ke rumah Tuhan
Kesanalah aku akan pulang...
MAE 1
Masihkah engkau disitu
Memandangi tulisan - tulisanku
Yang kutorehkan semampuku
Dengan tetes - tetes anyir darahku
Masihkah engkau disitu
Menerawang enggan ke masa lalu
Tempat dimana semua langkahku terhenti
Tertambat ribuan kata
Yang dulu pernah kauucapkan padaku
Masihkah engkau disitu
Harusnya aku benci untuk mengucap rindu
Tapi kehidupan berikutnya masih menunggu
Di kehidupan setelah kehidupan ini
Untuk sekeping ketidakpuasan sejarah di masa lalu
Aku akan mencarimu...
Memandangi tulisan - tulisanku
Yang kutorehkan semampuku
Dengan tetes - tetes anyir darahku
Masihkah engkau disitu
Menerawang enggan ke masa lalu
Tempat dimana semua langkahku terhenti
Tertambat ribuan kata
Yang dulu pernah kauucapkan padaku
Masihkah engkau disitu
Harusnya aku benci untuk mengucap rindu
Tapi kehidupan berikutnya masih menunggu
Di kehidupan setelah kehidupan ini
Untuk sekeping ketidakpuasan sejarah di masa lalu
Aku akan mencarimu...
Beribu Peristiwa Akan Kaulalui...
Anakku
Beribu peristiwa akan kaulalui
Beribu hikmah akan kauresapi
Dalam hidup ini memang banyak yang tak pasti
Kuhitung jumlahnya sejuta, tapi ternyata itu cuma sebagian kecil dari kumpulan mereka
Yang bersembunyi di dalam rongga - rongga gelap jiwamu
Godaan ujian dan cobaan sudah pasti akan menghampirimu
Ketika kau berhasil menyelesaikan satu maka janganlah cepat tersenyum
Karena yang kedua akan datang bersama yang nomor tiga, empat, dan seterusnya
Tapi, tetaplah tegar, seberat apapun itu
Karena aku tak akan membiarkanmu sendiri
Dalam setiap langkahmu, bayanganku kan slalu mengiringi
Mengantarmu
Membesarkan hatimu
Membasuh perih lukamu
Sampai kau mampu menapaki
Jalan - jalan dingin gelap dan sunyi seorang diri...
Beribu peristiwa akan kaulalui
Beribu hikmah akan kauresapi
Dalam hidup ini memang banyak yang tak pasti
Kuhitung jumlahnya sejuta, tapi ternyata itu cuma sebagian kecil dari kumpulan mereka
Yang bersembunyi di dalam rongga - rongga gelap jiwamu
Godaan ujian dan cobaan sudah pasti akan menghampirimu
Ketika kau berhasil menyelesaikan satu maka janganlah cepat tersenyum
Karena yang kedua akan datang bersama yang nomor tiga, empat, dan seterusnya
Tapi, tetaplah tegar, seberat apapun itu
Karena aku tak akan membiarkanmu sendiri
Dalam setiap langkahmu, bayanganku kan slalu mengiringi
Mengantarmu
Membesarkan hatimu
Membasuh perih lukamu
Sampai kau mampu menapaki
Jalan - jalan dingin gelap dan sunyi seorang diri...
Langganan:
Postingan (Atom)