Semua emosi sumpah serapah dari dalam jiwaku
Berteriak di dasar laut kesunyian
Berdentum....keras...
"Bajingan tengik...!!!"
...cuma aku yg bisa mendengar...
Jumat, Juli 03, 2009
Senin, Mei 25, 2009
Berdebat Dengan Harapan
Sekian lama kumencoba memupuk sebuah harapan
Sekian lama kukorbankan semuanya demi harapan itu
Sekian lama dan baru kini aku menyadari
Bahwa harapan itu telah jauh kulampau di belakang
Bukannya sesuatu yg harus kuraih lagi, karena aku telah meninggalkannya jauh di belakang
Dan harapan itu telah merubah namanya menjadi "realita"
Dan disini, di ujung ketidakpastian ini, parahnya, aku masih mencoba sombong utk bertahan
Malam ini, mataku terasa berat, sangat berat
Tapi aku masih ingin menghisap satu batang rokok lagi
Dan aku tahu pasti, yang kedua akan menyusul, bersama yang ketiga, keempat...
Aku mulai merasa lelah
Tapi jiwaku enggan menyerah
Satu kata yg paling kubenci dlm hidupku
Akankah itu kulakukan, sambil bersimpuh menunggu tebasan pedang sang waktu
Tidak, aku akan kembali berperang
Entah disini, atau di tempat dimana aku menemukan kembali sang musuh bebuyutanku itu
Sesosok musuh tangguh yg bernama "harapan"...
( Jakarta, 25 Mei 2009, saat harapan dan realita berperang berebut tempat terhormat dihatiku... )
Sekian lama kukorbankan semuanya demi harapan itu
Sekian lama dan baru kini aku menyadari
Bahwa harapan itu telah jauh kulampau di belakang
Bukannya sesuatu yg harus kuraih lagi, karena aku telah meninggalkannya jauh di belakang
Dan harapan itu telah merubah namanya menjadi "realita"
Dan disini, di ujung ketidakpastian ini, parahnya, aku masih mencoba sombong utk bertahan
Malam ini, mataku terasa berat, sangat berat
Tapi aku masih ingin menghisap satu batang rokok lagi
Dan aku tahu pasti, yang kedua akan menyusul, bersama yang ketiga, keempat...
Aku mulai merasa lelah
Tapi jiwaku enggan menyerah
Satu kata yg paling kubenci dlm hidupku
Akankah itu kulakukan, sambil bersimpuh menunggu tebasan pedang sang waktu
Tidak, aku akan kembali berperang
Entah disini, atau di tempat dimana aku menemukan kembali sang musuh bebuyutanku itu
Sesosok musuh tangguh yg bernama "harapan"...
( Jakarta, 25 Mei 2009, saat harapan dan realita berperang berebut tempat terhormat dihatiku... )
Rabu, Februari 25, 2009
Air Mataku Tak Pernah Mampu Membalas Samudra Jasamu...
( untuk semua orang tua di dunia ini... )
Dari tak bisa, menjadi bisa
Dari tak tahu, menjadi tahu
Dari kecil, menjadi dewasa
Dari aroganku, yang kini berubah menjadi sebentuk penyesalan yang tak kunjung terputus jua...
Ya, karena aku...
Belum mampu membalas jasamu
Belum mampu menunjukkan dharma bhaktiku padamu
Karena aku, anakmu ini
Terpaksa masih harus terus berjuang keras
Mencari hidup...Mengenalnya...Dan mengisinya....apa adanya
Sampai sering terlupa, oleh semua jasamu...
Bapak....Mama...
Kalian masih begitu mandiri
Masih begitu tegar berdiri
Tak mau kesulitanmu tampak dan merusak jalanku mengisi hari - hari
Membuat aku yang sudah dimakan waktu ini merasa menjadi semakin kecil dan belum juga punya arti
Karena semakin lama diriku semakin menyadari
Tak akan pernah mampu membalas semua jasamu
Yang hadir di malam hari ketika senja belum usai
Yang ada di pagi hari ketika malam belum tercerai - berai
Dan terus, terus, terus memenuhi jiwaku, tanpa pernah ada henti....menyesaki rongga dada penyesalan dan pertobatanku...
Airmataku mengalir jatuh, satu persatu
Bergerak perlahan, menyatu dengan samudra kasih sayangmu...
Yang luas, yang dalam, teramat sangat dalam menghangatkan jiwaku...
Maafkan anakmu ini...
Di sela isak haruku, betapa aku sangat mencintai kalian....Dan selalu kuberharap, semoga aku dapat membuatmu bangga, dengan semua bentuk sukses dalam hidup ini, walau sekecil apapun itu, yang akan selalu kucantumkan nama kalian disitu....dan akan kujaga abadi slamanya...
Terima kasih....hanya itu yang mampu kuucapkan...
Teriring sayang, dan sembah sujudku yang dalam, untuk Bapak, dan Mamaku...
Dari tak bisa, menjadi bisa
Dari tak tahu, menjadi tahu
Dari kecil, menjadi dewasa
Dari aroganku, yang kini berubah menjadi sebentuk penyesalan yang tak kunjung terputus jua...
Ya, karena aku...
Belum mampu membalas jasamu
Belum mampu menunjukkan dharma bhaktiku padamu
Karena aku, anakmu ini
Terpaksa masih harus terus berjuang keras
Mencari hidup...Mengenalnya...Dan mengisinya....apa adanya
Sampai sering terlupa, oleh semua jasamu...
Bapak....Mama...
Kalian masih begitu mandiri
Masih begitu tegar berdiri
Tak mau kesulitanmu tampak dan merusak jalanku mengisi hari - hari
Membuat aku yang sudah dimakan waktu ini merasa menjadi semakin kecil dan belum juga punya arti
Karena semakin lama diriku semakin menyadari
Tak akan pernah mampu membalas semua jasamu
Yang hadir di malam hari ketika senja belum usai
Yang ada di pagi hari ketika malam belum tercerai - berai
Dan terus, terus, terus memenuhi jiwaku, tanpa pernah ada henti....menyesaki rongga dada penyesalan dan pertobatanku...
Airmataku mengalir jatuh, satu persatu
Bergerak perlahan, menyatu dengan samudra kasih sayangmu...
Yang luas, yang dalam, teramat sangat dalam menghangatkan jiwaku...
Maafkan anakmu ini...
Di sela isak haruku, betapa aku sangat mencintai kalian....Dan selalu kuberharap, semoga aku dapat membuatmu bangga, dengan semua bentuk sukses dalam hidup ini, walau sekecil apapun itu, yang akan selalu kucantumkan nama kalian disitu....dan akan kujaga abadi slamanya...
Terima kasih....hanya itu yang mampu kuucapkan...
Teriring sayang, dan sembah sujudku yang dalam, untuk Bapak, dan Mamaku...
Jumat, Januari 23, 2009
Jaman Wis Akhir...
Neng endi taqwamu ?
Neng endi syariatmu ?
Neng endi imanmu ?
Duh Gusti, kawula tasih ten mriki
Nyuwun pitutur
lan pangapuro sak'ambaning segoro...
Neng endi syariatmu ?
Neng endi imanmu ?
Duh Gusti, kawula tasih ten mriki
Nyuwun pitutur
lan pangapuro sak'ambaning segoro...
Minggu, Januari 18, 2009
Ikan Pari Macan Tutul Itu...

Di satu waktu kesempatan kami memancing lagi, ada satu ikan yang berhasil kami tarik naik. Cukup mengejutkan, karena selain besar, bentuk dan corak badannya cukup aneh bagi kami. Ikan itu biasa disebut nelayan disana sebagai ikan pari macan. Bobotnya sekitar 7 kilogram, panjang ekornya 1,5 meter dengan diameter badan sekitar 80 centimeter. Ini gambarnya, dipegang oleh teman - teman saya. Yang di depan namanya Antok, yang berani sama ikan - ikan besar, tapi ternyata takut sama kecoak, hehe.
Kamis, Desember 11, 2008
Pancing Memancing

Agak lama tak menulis, saya ingin berbagi satu kisah dalam liburan panjang saya di Palembang. Salah satu aktifitas yang sangat menyenangkan menurut saya adalah memancing ikan di laut. Awalnya saya tidak begitu tertarik, tapi begitu sekali saja saya ikut, langsung saya jatuh cinta pada aktifitas mancing dan tempat dimana kami memancing.
Saya pergi bersama salah satu abang saya dan teman - temannya, yang menularkan kegemaran memancing itu pada saya. Lokasinya di dermaga Tanjung Siapi Api, sekitar 75 kilometer dari kota Palembang. Umpan yang kami gunakan adalah udang segar dan cacing nipah, yang bisa didapatkan di jembatan PU, jembatan ketujuh dari simpang bandara Sultan Mahmud Badarudin II. Lemak* nian tempatnya, walaupun untuk mencapainya kami harus berjalan di genangan rawa - rawa setinggi pinggang orang dewasa sepanjang 300 meter ( yang akhirnya kami tidak berani lagi melintasinya jika air pasang, menunggu air surut dulu sampai cetek, karena melihat buaya besar ketika memancing, hehe ).
Ikan yang ada disitu sangat beraneka ragam, diantaranya yang berhasil kami pancing adalah ikan kakap merah, ikan senangin, ikan pari, ikan baung, ikan pisang - pisang dan ikan sembilang. Tarikannya ketika kena sungguh berat, mantap nian rasanya di pegangan tangan kami yang menariknya. Oh ya, belut laut juga ada, kami dapat yang panjangnya hampir satu meter. Benar - benar pengalaman yang mengesankan. Saya merencanakan untuk memancing sekali lagi di akhir liburan saya, tapi saya bujuk abang saya dan teman - temannya untuk menginap, seru kan. See you in the next adventure :-)
*enak, bahasa Palembang.
Rabu, Desember 03, 2008
Puisi Ngawur Sebelum Tidur
Malam ini aku mau tidur
Terbang sebentar ke bulan
Ambil segenggam cahayanya
Lalu kembali ke bumi
Kutaburkan cahaya itu di sela - sela mimpi - mimpimu
Lalu aku tidur lagi...
Terbang sebentar ke bulan
Ambil segenggam cahayanya
Lalu kembali ke bumi
Kutaburkan cahaya itu di sela - sela mimpi - mimpimu
Lalu aku tidur lagi...
Langgan:
Entri (Atom)